Seseorang pernah menitipkan pertanyaan untuk ditanyakan kepada guru saya :
"Nasib dan takdir itu apakah sama atau beda?"
Setelah saya sampaikan pertanyaan tersebut, kurang lebihnya seperti inilah jawaban dari Buya Faiz (guru ngaji saya) :
"Nasib itu adalah bagian dari takdir
Jadi apa yang orang lain sebut sebagai nasib, ya itulah takdir mereka."
Disambungnya lagi,
"Hukum sebab-akibat itu juga takdir. Tapi, ada akibat yang memang disebabkan oleh manusia dan alam, ada juga yang memang sudah ditetapkan demikian oleh-Nya."
Jadi misal, seseorang memiliki nasib yang baik mulai dari keluarganya kaya, rezekinya mengalir terus tiada hentinya, ya itu memang nasibnya, memang takdirnya sudah seperti itu. Tapi, boleh jadi harta dan kecukupan itu ujian bagi dia.
Ada yang untuk mendapatkan apa yang dia mau harus usaha dan kerja keras dulu.
Ada juga, yang meski berjuang mati-matian semaksimal mungkin tapi masih mengalami kegagalan, ga berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Ya itu nasib, bagian dari takdir dia juga.
Walaupun jika di logika-kan, seharusnya kalau ada hukum sebab-akibat, apa yg kita tanam itu yang kita tuai, artinya jika kita berupaya semaksimal mungkin seharusnya kan bisa mendapat hasil yang setimpal. Ya belum tentu. Barangkali apa yang belum kita dapatkan itu justru baik untuk kita.
Sama hal nya dengan orang yang kalo kita lihat,
"Kok dia jahat tapi hidupnya baik-baik aja ya?", "Kok koruptor hartanya udah disita tapi tetep kaya, ya?"
Ya, mungkin dia selamat di dunia, tapi kita tidak pernah tahu nasib dia di kehidupan selanjutnya (kehidupan setelah kematian).