Rabu, 11 Oktober 2023

Kota Hujan

"Jadi, yang membuatmu terkenang itu Kota Hujan, kota ketika hujan,
"atau, seseorang dari kota hujan yang menorehkan kenangan di kota ketika hujan?"

"Entahlah, yang pasti aku suka novel hujan" 

"Dengan tokoh utama Soke Bahtera dan Lail?"

"Iya."

"Tapi, kau tidak menginginkan menjadi Lail dalam ruang kubus 4x4 dan berusaha menghilangkan ingatannya itu kan?" 

".........."

Mengenang Sang Libra dan Kisahnya

Aku pernah hidup dalam bait 
dan baris kata yang tertulis 
oleh sang melankolis. 
Aku adalah tokoh utama dalam kisahnya 
hingga beberapa tahun lamanya. 

Puisi dan diksi mewakilkan 
apa yang disebut perasaan,
sebagai cara untuk mengutarakan 
apa yang tak dapat tersampaikan 

Waktu telah berlalu
Cerita terus bergulir
Kini tokoh utamanya tak lagi aku 

- Teruntuk tuan Libra yang pernah kujadikan tokoh utama dalam bait diksi dan prosa -

Nasib dan Takdir, apakah sama atau beda?

Seseorang pernah menitipkan pertanyaan untuk ditanyakan kepada guru saya :
"Nasib dan takdir itu apakah sama atau beda?"

Setelah saya sampaikan pertanyaan tersebut, kurang lebihnya seperti inilah jawaban dari Buya Faiz (guru ngaji saya) : 

"Nasib itu adalah bagian dari takdir
Jadi apa yang orang lain sebut sebagai nasib, ya itulah takdir mereka."

Disambungnya lagi, 
"Hukum sebab-akibat itu juga takdir. Tapi, ada akibat yang memang disebabkan oleh manusia dan alam, ada juga yang memang sudah ditetapkan demikian oleh-Nya."

Jadi misal, seseorang memiliki nasib yang baik mulai dari keluarganya kaya, rezekinya mengalir terus tiada hentinya, ya itu memang nasibnya, memang takdirnya sudah seperti itu. Tapi, boleh jadi harta dan kecukupan itu ujian bagi dia. 

Ada yang untuk mendapatkan apa yang dia mau harus usaha dan kerja keras dulu. 
Ada juga, yang meski berjuang mati-matian semaksimal mungkin tapi masih mengalami kegagalan, ga berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Ya itu nasib, bagian dari takdir dia juga.

Walaupun jika di logika-kan, seharusnya kalau ada hukum sebab-akibat, apa yg kita tanam itu yang kita tuai, artinya jika kita berupaya semaksimal mungkin seharusnya kan bisa mendapat hasil yang setimpal. Ya belum tentu. Barangkali apa yang belum kita dapatkan itu justru baik untuk kita. 

Sama hal nya dengan orang yang kalo kita lihat,
"Kok dia jahat tapi hidupnya baik-baik aja ya?", "Kok koruptor hartanya udah disita tapi tetep kaya, ya?" 
Ya, mungkin dia selamat di dunia, tapi kita tidak pernah tahu nasib dia di kehidupan selanjutnya (kehidupan setelah kematian). 

Di Balik Indahnya Sunset

Masih menjadi pertanyaan, kenapa kalau seseorang patah hati, seringkali pantai yang menjadi tujuannya? 

Aku pun demikian. Awalnya, kupikir ya barangkali itu adalah salah satu cara untuk menangkan pikiran. Pergi ke tempat baru, melihat pemandangan yang menawan, mendengar debur ombak, bermain dengan pasir putih dengan kaki telanjang, dan tak lupa menikmati sunset dipenghujung waktu sebelum undur diri meninggalkan pantai. 

Ya, sunset.

Jika dipikir lebih lanjut, perasaan manusia yang patah hati bagaikan matahari yang tenggelam di ufuk barat.
Sebagaimana matahari yang nenerangi bumi dengan sinarnya, ketika kita jatuh cinta, hati kita seolah dihinggapi secercah cahaya yang pada akhirnya membuat kita bahagia. 
Sayangnya, sebagaimana matahari pula, ada terbit dan tenggelamnya. 

Kita tahu, Tuhan menciptakan matahari dengan cahaya yang tak abadi. 
Perasaan pun sama. Ada saatnya ia akan redup, kemudian meninggalkan bahagia-bahagia yang pernah ada. Dari sini kita bisa belajar bahwa keindahan akan sirna, bahagia itu fana. 

Jadi, tidak sepatutnya diri ini berharap pada manusia.