Jumat, 19 Juni 2020

[Review Buku] : Introvert - Sebuah Novel Penggugat Jiwa karya M.F. Hazim



Judul Buku      : Introvert – Sebuah Novel Penggugat Jiwa

Penulis             : M.F. Hazim

Penerbit           : Alvabet

Tahun terbit     : Cetakan pertama, Februari 2017

Tebal halaman : 276 halaman

Sinopsis

"Kau terlalu pendiam"

"Kau terlalu banyak bersembunyi di dalam kepalamu"

"Keluarlah dari cangkangmu"

"Jauhkan hidungmu dari buku"

"Bicaralah yang keras"

"Ya, dia memang pemalu"

Apakah ada yang salah dengan diri seorang intorver sehingga diperlakukan seperti itu?

.

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda berumur belasan. Nawawi namanya. 

Tak banyak teman yang mengenal siapa dia, itupun karena dirinya memang sengaja menerapkan jurus-jurus sakti andalannya agar dirinya tak kasat mata.

Dalam periode perjalanan hidupnya, Nawawi berusaha untuk memahami dirinya, memahami kepribadiannya yang menurut orang-orang disekitarnya berbeda; mencari cara untuk mendapatkan "teman" agar bisa keluar dari kesendiriannya; mencari hakekat arti sebuah pertemanan yang sesungguhnya dengan membaca artikel, mengingat pembahasan dalam buku yang pernah dibacanya dan membuka kembali buku-buku lama; Hingga dirinya teringat akan sebuah novel karangan Kahlil Gibran dengan judul "Sang Nabi" dimana dalam buku itu termuat dalam sebuah bab yang membahas makna persahabatan.


Bagaimana dengan teman-temannya disekolah?

Bagaimana dengan teman sebangku?

Bagaimana dengan keluarganya?

Ketika mengikuti alur ceritanya, kamu mungkin akan merasa heran, karena tokoh utama dalam buku ini ternyata tak pernah suka dengan para ekstrover. Mungkin itulah kenapa dirinya sulit mendapatkan teman. Entahlah..

Sang Introver seolah curhat bernada menggugat atas dunia kaum ekstrover yang dianggap sia-sia, membuang waktu, tak bermutu dan tidak efektif. Padahal keluarganya sendiri termasuk Ibu dan Adik perempuannya memiliki kepribadian yang terbuka. Amat berbeda dengan dirinya.


Sang Introver bukan tidak menginginkan teman. 

Bukan pula karena dirinya tak ingin keluar dalam zona kesendirian.

Hanya saja banyak yang tak paham, kalau Sang Introver selalu berusaha untuk penuh perhatian dan pertimbangan terhadap sekitar, terhadap orang-orang. Sang Introver mengamati segala hal, tapi karena selalu berkutat dengan pikirannya, hingga akhirnya sulit bagi Sang Introver untuk mempercayai orang lain. 

.

Ditengah perjalanannya dalam mencari teman, Nawawi bertemu kembali dengan teman lamanya, yang membuat masa putih biru berjalan dengan tidak terlalu buruk.

Namun sayang, pribadi Ari (teman SMP nya dulu) amat berbeda ketika ditemuinya malam itu. Tidak lagi mengenal main PS, main game, nonton anime, semua kenangan masa putih biru mereka berakhir sudah. Ari justru mengajaknya untuk bergabung dengan komunitas barunya, komunitas fotografi. 

Dalam sebuah cafe yang terlihat ramai, Ari dan Nawawi tertahan didepan pintu. Sang Introver menduga-duga akan terjadi hal yang tidak mengenakan didalam sana. Di detik itu pula dirinya berusaha mencari alasan supaya bisa kabur dari keramaian yang akan menenggelamkannya. Yah, namun tetap saja. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, beragam alasan yang diberikan tak akan membuat temannya itu dengan mudah melepaskan dirinya untuk pulang. 

Ditemani segelas kopi dan sepiring kue cokelat, dirinya terpaksa menikmati suasana dalam cafe. Beruntung, masih ada musik klasik yang menenangkan pikirannya. 

"Seorang introver akan menarik intorver yang lainnya"

Benar saja. 

Ketika tidak sengaja dari arah tempat berkumpulnya Ari dan komunitas fotografinya, seorang wanita melangkah mendekati Nawawi.

"Kata Ari kamu suka baca buku?"

Kalimat pembuka yang cukup sederhana, tentunya hal itu membuatnya menatap waspada, namun setelahnya dirinya justru terseret dalam alur percakapan yang dibuat si Wanita.

Diluar prasangka, wanita itu bukan bangkai yang tiada arti, tetapi dia adalah sosok merak yang sedang menyamar. Nawawi menatap kagum wanita dihadapannya itu. Tak disangka, percakapan bisa menyatu sesederhana membicarakan buku yang disuka. Teman Akrab pun bisa terwujud karena tak sengaja bertemu dengan seseorang yang memiliki hobi yang sama.  

.

Menjelang akhir cerita, kalian akan tahu, diantara dua jenis manusia ada juga yang disebut ambiver.

Dan gadis itu. 

Gadis itu adalah satu dari sedikit orang berkepribadian ambiver. 

 

***

Buku ini saya baca via ebook melalui applikasi Ipusnas. Bagi pembaca yang belum tahu, Perpustakaan Nasional Indonesia atau biasa disingkat Perpusnas mengeluarkan sebuah aplikasi pustaka bernama Ipusnas. Aplikasi ini bisa kalian download di playstore bagi pengguna android. Di dalamnya terdapat banyak buku-buku bagus dan menarik untuk dibaca.

Mari hargai karya penulis dengan tidak membeli buku bajakan atau menyebar luaskan ebook ilegal. Di Ipusnas kalian bisa baca buku dalam bentuk digital secara legal, praktis, dan gratis.

#downloadajadulu #maribacabuku :)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar