Jumat, 19 Juni 2020

[Review Buku] : Si Anak Pemberani (Serial Anak Nusantara) karya Tere Liye


Judul Buku      : Si Anak Pemberani

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : Republika

Tahun terbit     : Desember 2018

Tebal halaman : 424 halaman

Harga               : Rp 83.000

Sinopsis          

Menjadi anak perempuan pertama itu tidak mudah 

- Bahunya harus sekuat baja 

- Tangannya harus sekuat laki-laki agar bisa membanggakan keluarga

- Hatinya harus setegar karang

- Matanya tidak boleh menampakan kesedihan

.

Buku ini bercerita tentang Eliana, si anak pemberani, anak sulung Bapak dan Mamak yang dengan berani membela tanah, sungai, hutan, dan lembah di kampungnya.Saat kerakusan dunia datang, Eliana bersama teman karibnya bahu-membahu melakukan perlawanan.

Tersimpan beragam kekayaan sumber daya alam di tempat dirinya tinggal. Namun perlahan, orang-orang kota mulai membuat kekacauan, mengusik ketentraman hutan dan mengganggu siklus alam.

Truk-truk besar hilir mudik mengangkut hasil tambang. Warga kampung geram, namun tidak bisa banyak melakukan perlawanan. Dan disaat itulah dengan kegigihan dan keberaniannya untuk mengusir truk-truk itu, Eliana dan teman karibnya menyusun rencana. 

Rencana yang disusun kali pertama, gagal. Dan setelahnya justru membuat seorang teman bernama Martohap menjadi korban. Martohap dengan nekat menyerang truk-truk itu sendirian. Eliana tak bisa berbuat banyak, tapi Eliana menjadi satu-satunya saksi saat peristiwa itu terjadi. Melihat sendiri bagaimana Martohap melempar truk-truk itu dengan minyak, kemudian menyalakan api. Eliana juga melihat Martohap jelas ketahuan oleh para penjaga tambang. Martohap dikejar, diburu hingga tengah hutan. Suara peluru terlepas jelas terdengar. Eliana panik, dan kembali memasuki area kampung untuk memberitahu kebenaran dan mencari pertolongan. Terakhir kali sebelum dirinya pergi, ia melihat Martohap berlari menuju lubuk larangan. 

Apa mau dikata, orang-orang kota itu lebih licik. Polisi tak menemukan satupun jejak terkait kejadian malam itu. Saksi Eliana hanya menjadi sangsi. Kemudian dengan mudahnya kasus ditutup. Entah dimana jasad Martohap disembunyikan. Banyak tanya menyeruak, baik bagi Eliana, orang tua Martohap dan warga kampung.


Jika kalian anak perempuan pertama di keluarga, emosi Eliana dalam cerita ini akan ikut kalian rasakan. 

Sebagai anak sulung, Eliana menjadi yang paling diharapkan oleh Bapak dan Mamak. Elliana sering diminta membantu Mamak di dapur, menjaga ketiga adiknya, membangunkan adik-adiknya dan memastikan mereka tidak kesiangan berangkat sekolah, memastikan mereka sudah siap di meja makan ketika tiba waktu sarapan dan makan malam, memastikan keselamatan mereka ketika bermain bersama kawan-kawannya, dan masih banyak hal lain yang harus diperhatikannya, tetapi seringnya, Elliana juga yang kena omelan Mamak.

Jika boleh memilih, Eliana tak ingin dilahirkan menjadi anak sulung. Eliana merasa dia tak dikasihi sebagaimana adik-adiknya, dia tidak merasakan cinta kedua orang tuanya karena hanya omelan yang diterimanya. 

"Sayangnya kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan nomor berapa. Sama tidak bisa memilihnya siapa yang akan menjadi mamak kita, bapak kita. Semua sudah digariskan demikian. Suka tidak suka.", dengan bijak bapaknya memberi nasihat ketika emosi Eli memuncak. 

.

Part yang bikin sedih adalah ketika Eliana kabur dari rumah namun kemudian menyadari kasih sayang mamak amat dalam padanya. Omelan-omelan itu juga bukan semata-mata untuk memarahi dia. 

"Kalau kau tahu sedikit saja apa yang sudah dilakukan apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, bahkan yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, dan rasa sayangnya kepada kalian"

Malam itu Eliana sadar, kalimat hebat itu selalu benar. 

.

Hey, petualangan bahkan baru dimulai hingga pada tahap Martohap hilang. 

Bukan hanya kisah mengusir truk-truk tambang itu, tentunya masih ada cerita seru lainnya di dalam novel ini. 

Akhir dari cerita mengingatkan pembaca perihal :

"Ada suatu masa diantara masa-masa. Ada suatu musim diatara musim-musim. Ada saatnya ketika alam memberikan perlawanan sendiri. Saat sungai, hutan, lembah, membalas sendiri para perusaknya."

Nasihat itu ada benarnya. Tetapi bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?

Bukankah kemurkaan alam tak hanya menimpa para perusak, warga tak berdosa pun bisa ikut terkena dampaknya?

Itulah yang dilakukan Eliana. Si anak pemberani yang tak hanya menunggu alam bekerja. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar