Selasa, 28 Juli 2020

Fatamorgana

Merah. Merona. Merekah. Hampa
Tersenyum. Bahagia. Tertawa. Kecewa
Bangkit. Melangkah. Berlari. Terjatuh. 
Memulai. Melaju. Menggebu. Runtuh. 

Hidup berotasi layaknya bumi
Ada kalanya dipuncak kejayaan 
Lain waktu bisa jadi dilanda sulit tanpa kesudahan

Dunia ini fana
Abadi hanya bualan belaka
Semua akan hilang di makan zaman, atau berakhir atas kehendak tuhan

Kadangkala kita terlalu mengelukan apa yang ada di hadapan
Padahal mungkin, semua bisa raib dalam satu kedipan

Mereka Sebut Hidayah

Merendah, pasrah, muhasabah

Ketika hati tak tentu arah

Seringkali salah menentukan langkah

Tertunduk lesu, harapan patah


Suram, hitam, tenggelam

Itu yang kau dapat jika terdiam

Berjalanlah, perlahan

Ada cahaya yang menunggu untuk kau jemput di hadapan


Yang akan menjadi penerang hidupmu dalam menelusuri jalan

Yang mampu mempererat hubunganmu dengan Tuhan

Memperkaya keyakinan

Mewujudkan harapan 

Syukur

Kesadaranku kian menampakkan kembali radarnya
Sebelumnya aku mengira, nasibku tak seberuntung mereka

Sempat iri, tapi kembali kumengingat
Allah tidak suka jika hambanya menyimpan dengki meski sesaat
"Karena, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah: 5)
Ayat itu di ulang sekali lagi
"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah: 6)
Kutipan salah satu ayat
Membuatku percaya pada suatu hakikat
Semua pasti akan berlalu jika sudah menemukan saat
Baik sedih, senang, bahagia ataupun rasa sakit yang menyayat
Aku pasrah
Namun bukan berarti aku menyerah
Aku tundukan kepala kebawah
Kulihat segelintir orang memiliki nasib yang lebih parah

Aku bersyukur
Betapa banyak nikmat yang tak dapat kuukur
Tersadar selama ini diriku terjerembab kufur
Beruntung, Allah tak sampai membuatku tersungkur

Aku ingat kembali
Betapa banyak hal dengan mudah ku sesali
Hanya karena tak dapat kumiliki
Sedangkan diluar sana banyak yang mengelukan hidupku meski sekedar mencicipi
  
Jalan setiap orang berbeda
Bersyukurlah kalian jika lebih dulu mengecap mimpi yang pernah muncul di kepala
Penggaris hidup setiap orang juga berbeda
Tak seharusnya kuukur garis sukses milikku dengan mereka

Kudongakkan kepalaku
Bukan ingin angkuh
Hanya ingin sejenak melihat mimpi yang menggelayuti 
Menyemangati diri agar dapat meraih             
Meski waktu yang diberikan bukan
saat ini
   
Aku merengkuh
Tertunduk patuh
Kini, tak akan lagi ku mengeluh 

Bungkam

Ada yang mengungkap lewat lisan

Ada pula yang lewat tulisan

Yang lebih ringkas lagi, lewat ketikan


Apa yang ingin aku ungkap?

Lisan tertutup rapat

Jari tak bisa diajak kompromi untuk menyampaikan perihal rasa yang tak nampak


Diam

Boleh jadi sebuah pilihan,

Tapi tidak bisa terus menerus begitu bukan?


Tidak semua paham apa yang kau rasa tanpa penyampaian

Tidak semua dapat mengerti jika kau tak berusaha membicarakan

Tidak semua diam, adalah logam mulia yang senantiasa harus disimpan


Mungkin demikian,

Tapi sungguh, ini lebih rumit jika harus dijabarkan

Senja dan Sendu

Senja, izinkanku bercerita
Denganmu berdua saja
Mengulas kisah pilu masa lalu
Yang sampai saat ini masih menyisakan sendu

Tahukah senja, awan hitam itu merenggut bahagiaku
Menghilangkan senyum
Menghadirkan luka
Meredupkan mimpi yang kubangun di masa SMA

Kupikir semua akan baik saja 
Berharap pulih seperti semula
Namun hujan terlanjur mengalir deras di pelupuk mata
Hero yang kuberi nama papa
Pertama kali kulihat sendu wajahnya
Menghitam matanya
Tak henti hari demi hari air membasahi matanya

Bidadari yang kuberi nama mama
Tak lagi kutemukan cerianya 
Hanya doa dan lantunan ayat suci yang keluar dari lisan
Menata hati agar kuat menghadapi cobaan
                
Senja, belajar dari sebuah peristiwa 
Diriku kini menjadi lebih dewasa
Mengharuskanku untuk lebih waspada
Karena kutemukan segelintir orang ternyata bermuka dua
Ketika harta membuat gelap mata
Persahabatan jadi taruhannya
Terjalin lama namun sia-sia
Berakhir tanpa makna dan penuh tanda tanya  
                                                    
Sang muka dua bersandiwara Menjadikan dunia sebagai panggung baginya                 
Merabah, mencari mangsa yang  terlena 

Menutup muka dengan topeng oasis
Menampilkan muka tenang tanpa beban 
Sambil mengulurkan lidah kefitnahan
Dan berdiri diatas kaki kebohongan
Aku tersadar setelahnya
Lihatlah dibaliknya
Ada wajah dibalik topeng megahnya  

Oh senja,   
Ingin sekali kutertawa
Begitu pandai ia menipu diri
Begitu tega ia menyakiti  
Bak manusia tak punya hati
Jika kau berjumpa dengannya, sampaikan salamku, hidayah menati.

Kepada Tuan Totalitas

Untuk : Tuan totalitas

Ayam baru saja mengeluarkan suara
Sedang kamu sudah siap sedia 

Bak hari-hari dipenuhi semangat empat lima
Kamu datang sangat pagi dan pulang lewat dari waktunya

Kamu ini semangat bekerja atau menyiksa jasad dengan meniadakan waktu istirahatnya?

Kamu baik, sungguh baik, bahkan kelewat baik
"Aku ga enak sama dia" katamu        

Apa sulitnya untuk bilang tidak?
Bantulah orang sewajarnya
Selesaikan pekerjaanmu, baru bantu pekerjaan orang lain
Mudahkan urusanmu, setelah itu barulah kau bantu mudahkan urusan orang lain
Totalitas boleh saja, tapi tetap pada porsinya

Pernah aku merasa nasihatku percuma 
Sampai akhirnya dia tersadar 
"Kayaknya aku dimanfaatin sama mereka"

Udah ngerti, kenapa masih mau?