Masa itu kamu datang padaku sebagai korban atas jarak sebagai pembatas
Jika dari awal kamu bercerita dengan sukarela
Tentu hubunganmu dengannya tak akan kandas
Sungguh, menjadi perusak hubungan orang lain dalam hidupku tak pernah terlintas
Masa putih abu yang lugu
Terkenal dengan masa orientasi yang katanya seru
Terbayang untuk mendapat banyak teman dan hal baru
Namun disayang hanya angan semu
Masa putih abu yang lugu
Kuawali dengan menjadi pengganggu
Merusak hubungan orang lain tanpa pernah kutahu
Masa orientasi berakhir haru
Dengan mudah mereka melempar tuduhan tanpa dasar
Sarkasme pun tak henti terlontar
Aku harus apa?
Menjelaskan pada mereka?
Sedang aku, seperti wanita bodoh yang tidak tau apa-apa
Dengan berjalannya waktu, semua membaik
Namun, tidak dengan aku
Kamu lempar hatiku dengan parit;
dengan mudahnya pergi tanpa berucap pamit
Kabar burung sampai ditelingaku
Kamu kembali padanya
Kepada puan yang seharusnya menjadi tempatmu
pulang
Jika begitu, untuk apa kamu mengajak hati berpetualang?
Bagiku tidak baik meratapi suatu kepergian
Teruntuk kepada tuan yang hanya menjadikanku tempat persinggahan
Ketika kamu pergi, ada sosok lain yang mulai mendekati
Laki-laki itu amat baik
Dia tuan humoris yang selalu membuatku tertawa
Mengisi hari-hari dengan tingkah laku yang tidak biasa
Aku berharap dia juga yang akan mengisi kekosongan hatiku dalam jangka waktu yang
tak lama
Sayangnya tak ada restu dari semesta
Semesta mengirim kamu kembali
Tanpa rasa bersalah kamu melenggang bebas dalam ruang hati; yang sempat kamu
hantam dengan belati
Kulihat luka disana masih ada, namun tak lagi terasa sakit ketika kamu mulai
menyapaku setiap hari
Bodoh? Memang
Perkara hati, tak ada yang mampu dengan benar memahami
Pertemanan aku, kamu dan dia berlangsung cukup lama
Sampai masanya tiba, kamu mulai mengungkap rasa
Hatiku mungkin untukmu, namun rasa nyamanku ada padanya
Aku tidak bisa memberi keputusan padamu saat itu juga
Satu hal yang tidak pernah kuduga,
kamu dan dirinya adalah sahabat sejak lama
Alam semesta berkonspirasi saat diriku tengah dilema
Karena tak berapa lama, tuan humoris yang juga sahabatmu, mengungkap rasa dalam
hatinya
Aku tak lagi bisa berkata
Jika aku berpihak pada salah satu, tentu akan menyakiti pihak lainnya
Haruskah menjadikan persahabatan berakhir sia-sia hanya karena seseorang yang
dicinta?
Biar saja kisah itu hanya ada dalam novel yang kubaca
Tak usah aku berlaga wanita paling istimewa
Karena aku pun tak akan rela jika sahabatku meninggalkanku dengan kasus yang
sama
Akhirnya kuputuskan untuk tak memihak siapapun dari keduanya
Sepekan setelah jawaban yang kuputuskan; kamu menghilang
Otak mulai berpikir tidak karuan
Mencoba mencari jawaban atas segala kejanggalan
Namun, tak jua ditemukan
Baiklah, kubiarkan kamu melenggang
Mungkin saja kamu sudah tak sabar untuk kembali mengajak hati berpetualang
Kemudian masa dengan cepat angkat bicara
Segala praduga berakhir nyata
Kabar burung tak sekedar asal bicara
Dari sekian banyak wanita, kenapa harus dia?
Sahabat yang menemaniku dengan setia
Teman berbagi kisah haru dan bahagia
Tempat aku bernaung ketika sedang dilanda duka
Tempat berbagi cerita tentang aku dan kamu yang tidak bisa menjadi kita
Tidak kusangka persahabatan yang terjalin cukup lama
direlakannya begitu saja
Selain rasa kecewa, dia menambah luka dengan menyudahi segalanya
Dan aku, kehilangan orang yang aku cinta sekaligus sahabat yang aku pikir setia
Semenjak kamu dan dia berjalan selaras
Hari-hari kuhabiskan di kelas
Mengistirahatkan hati yang telah bekerja keras
Menanggalkan awan hitam yang membuat tempias
Pada poros bumi yang berotasi
Aku berharap hari dengan cepat berganti
Setidaknya luka di hati dapat segera terobati
Dibantu oleh waktu, berharap cepat bereaksi
Tidak kusangka hukum sebab akibat dengan cepat
berkontraksi
Hubungan kalian disudahi
Entah apa yang terjadi, aku tak tahu pasti
Masa itu kamu datang padaku membuat pengakuan tentang penyesalan
tanpa henti
Meminta maafku kembali
Seolah berjanji tak akan mengulangi
Menganggap semua ini adalah karma yang dikirimkan semesta untuk menguji
Kau menungguku dengan penuh harap
Bersikukuh tetap menetap
Meski tahu hampa yang kau tatap
Hatiku memang lembut, mudah untuk terpaut, tetapi jangan kau
kira mudah membuatku terhasut
Hingga saat ini semesta belum mengizinkan kisah ini berakhir
Aku sadar, rasaku padamu masih terukir
Namun, hati enggan merima kembali tuan yang suka mangkir
Untuk saat ini cukup kusuguhkan kopi secangkir
Meski niatmu menjadikan aku tujuan akhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar