The
Efect of COVID to The Business
Diskusi
mengenai bisnis/perekonomian
atas
penyebaran virus COVID dan dampaknya terhadap:
1.
Bisnis/Perekonomian dunia
2.
Bisnis/Perekonomian Indonesia
3.
Pasar Modal
4.
Apa yang akan anda lakukan?
- Dampak terhadap Bisnis/Perekonomian Dunia
World
Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Coronaviruses (Cov)
adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini
disebut COVID-19. Virus Corona menyebabkan penyakit flu biasa sampai
penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah
(MERS-CoV) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-CoV). Virus Corona
adalah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia.
Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus
COVID-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan
Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice
on the treatment of pneumonia of unknown cause”. Penyebaran virus
Corona ini sangat cepat bahkan sampai ke lintas negara. Sampai saat
ini terdapat 93 negara yang mengkorfirmasi terkena virus Corona.
Penyebaran virus Corona yang telah meluas ke berbagai belahan dunia
membawa dampak pada perekonomian dunia baik dari sisi perdagangan,
investasi dan pariwisata.
Dalam
situs
https://republika.co.id/berita/q78m39318/ekonomi-covid19,
dijelaskan;
Warwick
McKibbin dan Roshen Fernando, para peneliti Australian National
University, dalam riset mereka “The Global Macroeconomic Impacts of
Covid-19” menyusun tujuh skenario dampak virus Covid-19 terhadap
perekonomian global. Indonesia termasuk salah satu dari 20
negara yang diteliti.
Skenario
disusun berbasis asumsi tingkat keparahan wabah Covid di Cina.
Pertama, karena Cina sebagai tempat awal merebaknya virus ini.
Kedua, karena Cina sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia.
Apa yang terjadi di Cina akan sangat berpengaruh pada negara lain di
dunia.
McKibbin
dan Fernando mengidentifikasi 5 jenis guncangan (shock) akibat wabah
ini.
Pertama,
guncangan terhadap ketersediaan tenaga kerja. Di Cina indeks
ketersediaan tenaga kerja turun 3,44, yang dampaknya terasa negara
lain termasuk Indonesia yang turun 4,56. Penurunan Indonesia
paling besar diantara 20 negara yang diteliti karena Cina adalah
mitra dagang terbesar Indonesia. Yang juga besar penurunannya adalah
India yaitu turun 4,44.
Kedua,
guncangan terhadap equity
risk premium.
Di Cina indeks risiko ini naik 2,67, sedangkan Indonesia naik 2,93.
Hanya ada satu negara yang risiko nya naik lebih tinggi dari
Indonesia, yaitu India sebesar 3,18.
Ketiga,
guncangan terhadap biaya produksi. Di Cina indeks biaya naik
0,50 di seluruh sektor Energi, Pertambangan, Pertanian, Manufaktur
Barang Durable, Manufaktur Barang Non-Durable, Jasa-jasa. Di
Indonesia indeks ini akan naik dalam kisaran 0,31 sampai dengan 0,40.
Keempat,
guncangan terhadap permintaan konsumsi. Indeks ini turun 4,50 di
Cina, sedangkan di Indonesia turun 3,86. Di antara 20 negara
yang diteliti, hanya ada 3 negara yang lebih baik dari Indonesia
yaitu Argentina turun 3,76, Afrika Selatan turun 3,69, dan Arab Saudi
turun 3,35. Besarnya populasi dan level konsumsi dasar
Indonesia banyak membantu menahan turunnya indeks ini.
Kelima,
guncangan terhadap anggaran belanja pemerintah. Pemerintah Cina
berpotensi menaikkan indeks ini sebesar 2,25, sedangkan di Indonesia
indeks ini berpotensi dinaikkan 2,12. Kenaikan belanja
pemerintah ini antara lain untuk penanggulangan wabah.
Dengan
memperhitungkan kelima guncangan tersebut, McKibbin dan Fernando
melakukan simulasi dampak wabah Covid-19 terhadap penurunan
pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 pada masing-masing negara. Berikut
ini scenario 4, 5, dan 6.
Pertumbuhan
ekonomi Cina akan terkoreksi turun -1.6% pada scenario 4, turun -3.6%
pada scenario 5, dan turun -6.2% pada scenario 6. Sedangkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkoreksi turun -1.3% pada
scenario 4, turun -2.8% pada scenario 5, dan turun -4.7% pada
scenario 6.
Simulasi
ini sangat besar dampaknya pada perekonomian Indonesia. Data
Biro Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia tahun 2019 tumbuh
5,02 persen. Sedangkan ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding
triwulan IV-2018 tumbuh 4,97 persen (year on year).
Menggunakan
scenario 6, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir habis
terpangkas mendekati nihil atau stagnasi. Bila Pemerintah
berhasil melakukan penanganan wabah, sehingga yang terjadi adalah
scenario 5, maka pertumbuhan ekonomi hanya 2,22 persen. Bila yang
terjadi scenario 4, maka pertumbuhan ekonomi 3,72 persen.
Seandainya
yang terjadi scenario 4 sekalipun, dampaknya akan terasa pada
penurunan konsumsi masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada triwulan IV-2019,
misalnya, yang tumbuh 4,97 persen, dari sisi pengeluaran ditopang
oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,97 persen
sebagai komponen dengan pertumbuhan tertinggi.
Sedangkan
dalam situs
https://katadata.co.id/analisisdata/2020/03/16/ekonomi-dunia-menanggung-beban-covid-19
,
disebutkan bahwa Tiongkok menjadi Negara yang terpengaruh dan
memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perekonomian dunia.
- Virus Corona Pengaruhi Ekonomi Tiongkok
Wuhan
adalah salah satu pusat ekonomi di Tiongkok. Berdasarkan data, produk
domestik bruto (PDB) kota ini mencapai 1,48 triliun yuan pada 2018.
Jumlah itu mencapai 1,6 persen dari total PDB Tiongkok sebesar 90,03
triliun yuan. Dengan besaran PDB tersebut, Wuhan termasuk dalam 10
besar kota dengan ekonomi terbesar di Tiongkok. Seperti dikutip dari
SCMP, penghentian aktivitas ekonomi dan penutupan akses, tak hanya
akan melumpuhkan Wuhan. Wabah corona diperkirakan ikut berdampak
terhadap ekonomi Tiongkok. Apalagi Wuhan merupakan penghubung wilayah
Tiongkok bagian tengah dengan kawasan lain. Kota ini telah menjadi
pusat industri otomotif dan baja di Tiongkok. Bahkan dalam beberapa
tahun terakhir telah berinvestasi menjadi sentra hi-tech untuk
industri optik. Microsoft dan perusahaan piranti lunak Jerman SAP
diketahui membangun industri di kota ini. Selain juga perusahaan
otomotif, seperti Dongfeng Motor Corp, Nissan, Honda, General Motor,
serta pabrikan mobil Prancis Groupe PSA.
Tahun
lalu, PDB Tiongkok tumbuh sebesar 6,1 persen atau yang terendah dalam
29 tahun. Dengan merebaknya wabah corona, perekonomian Tiongkok
dipastikan bakal terjerembab ke level terbawah dalam tiga dasawarsa
terakhir. Apalagi jika virus yang bernama Covid-19 sampai menyebar ke
luar wilayah Wuhan. Dengan situasi ini, Economist Intelligence Unit
(EIU) memangkas pertumbuhan ekonomi Tiongkok menjadi 5,4 persen pada
2020. Angka ini lebih rendah dari prediksi sebelumnya sebesar 5,9
persen. Namun dampak terhadap PDB akan lebih besar jika wabah ini tak
tertangani hingga Maret. Hal yang sama juga dilakukan sejumlah
lembaga yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada
tahun ini. Pemerintah Tiongkok pun tak membantah jika wabah corona
dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi antara 0,2 – 1 persen. Hal ini
disampaikan Zeng Gang, Wakil Ketua Institut untuk Keuangan dan
Pembangunan Nasional, seperti dikutip dari Reuters. Perkiraan ini
mengacu pada dampak wabah SARS yang terjadi pada 2003. “Dampak
epidemik ini terhadap ekonomi di kuartal I, sepertinya akan sebanding
(dengan SARS),” kata Zeng Gang.
- Ekonomi Global Diprediksi Merosot
Sebagai
negara dengan ekonomi terbesar kedua, merosotnya ekonomi Tiongkok
akan berdampak terhadap perekonomian global pada 2020. Hal ini
terlihat dari proyeksi yang dilakukan sejumlah lembaga. EIU
menurunkan target pertumbuhan ekonomi global dari 2,3 persen menjadi
2,2 persen. Sementara Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi
sebesar 2,4 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 2,5 persen.
Lembaga riset Moody’s Analytics dalam laporan “Coronavirus: The
Global Economic Threat” (2020) memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi
Tiongkok pada kuartal I-2020 (yoy) tergerus hingga 2 persen. Adapun,
setiap 1 persen penurunan PDB negara ini akan mengurangi perekonomian
dunia sebesar 0,4 persen. Menurut laporan tersebut, kawasan Asia yang
bakal paling dirugikan. Dampak jangka pendeknya pun sudah terlihat di
sektor pariwisata. Sejumlah negara yang menghentikan sementara
penerbangan serta pelayaran dari dan ke Tiongkok mencatatkan
penurunan jumlah kunjungan wisatawan, seperti Thailand, Jepang, dan
Vietnam. Di Makau, mengutip Bloomberg, jumlahnya bahkan anjlok hingga
83 persen selama libur Imlek. Data China Outbound Tourism Research
Institute menyebutkan sebanyak 173 juta wisatawan Tiongkok bepergian
ke luar negeri pada periode Oktober 2018 sampai September 2019. World
Tourism Organization pun mengatakan mereka yang paling banyak
mengeluarkan uang dalam pelesirannya, dengan total US$ 277 miliar
pada 2018.
Selain
itu sejak awal 2000, Tiongkok gencar menanamkan modalnya di negara
lain. Dana itu ditanamkan untuk sejumlah proyek infrastruktur serta
manufaktur, terutama di kawasan Asia seperti Pakistan, Indonesia, dan
Malaysia. Sepanjang 2005-2019, total investasi yang dilakukan
Tiongkok di Asia mencapai US$ 527,2 miliar.
(Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Analisis
Data: Ekonomi Dunia Menanggung Beban Covid-19")
- Dampak terhadap Perekonomian Indonesia
Dikutip
dari
https://www.suara.com/bisnis/2020/02/28/162535/menakar-dampak-virus-corona-terhadap-perekonomian-indonesia
China
merupakan negara eksportir terbesar dunia. Indonesia sering melakukan
kegiatan impor dari China dan China merupakan salah satu mitra dagang
terbesar Indonesia. Adanya virus Corona yang terjadi di China
menyebabkan perdagangan China memburuk. Hal tersebut berpengaruh pada
perdagangan dunia termasuk di Indonesia. Penurunan permintaan bahan
mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu
sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga
komoditas dan barang tambang.
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2020, penurunan tajam
terjadi pada ekspor migas dan non-migas yang merosot 12.07%, hal ini
dapat terjadi karena China merupakan pengimpor minyak mentah
terbesar, termasuk dari Indonesia.
Dari
sisi impor juga terjadi penurunan 2.71% yang disumbang turunnya
transaksi komoditas buah-buahan.
Kepala
Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan
memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami
perlambatan sekitar 0,23%, jika perekonomian China melemah satu
persen akibat wabah virus Corona.
Dalam
situs
https://duta.co/dampak-virus-corona-terhadap-perekonomian-global-khususnya-di-indonesia,
disebutkan bahwa
sektor Pariwisata
diperkirakan akan menjadi sektor yang paling berdampak akan
merebaknya kasus ini. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia
(ASITA) memprediksi potensi kerugian sektor industri pariwisata
mencapai puluhan miliar per bulan karena anjloknya turis dari China.
Indonesia
adalah salah satu negara yang memberlakukan larangan perjalanan ke
dan dari China untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini
menyebabkan sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya dan beberapa
maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun mayoritas bangku
pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang. Para konsumen banyak
yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya
penyebaran virus Corona. Keadaan ini menyebabkan pemerintah bertindak
dengan memberikan diskon untuk para wisatawan dengan tujuan Denpasar,
Batam, Bintan, Manado, Yogyakarta, Labuan Bajo, Belitung, Lombok,
Danau Toba dan Malang. Di Eropa juga memberlakukan aturan dimana
maskapai penerbangan harus menggunakan sekitar 80 persen slot
penerbangan yang beroperasi ke luar benua Eropa agar tidak kehilangan
slot ke maskapai pesaingnya. Bukan hanya di Indonesia yang membatasi
perjalanan ke China, namun negara-negara yang lain seperti Italia,
China, Singapura, Rusia, Australia dan negara lain juga memberlakukan
hal yang sama
(www.cnnindonesia.com).
“Virus
Corona yang sudah banyak menyerang saudara kita di belahan negara
lain tentu menjadi ketakutan yang juga dirasakan hingga Indonesia.
Tak hanya tindakan dari pemerintah saja, masyarakat pun perlu mawas
saat bepergian ke luar negeri sehingga menimalisir kemungkinan virus
masuk ke Indonesia. Penting pula mengenali lebih jauh negara yang
ingin dikunjungi sebelumnya,”
kata Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani dalam
keterangannya, Jumat (28/2/2020).
Data
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa wisatawan asal China
mencapai 2.07 juta orang pada tahun 2019 yang mencakup 12.8 persen
dari total wisatawan asing sepanjang 2019. Penyebaran virus Corona
menyebabkan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia akan berkurang.
Sektor-sektor penunjang pariwisata seperti hotel, restoran maupun
pengusaha retail pun juga akan terpengaruh dengan adanya virus
Corona. Okupansi hotel mengalami penurunan sampai 40 persen yang
berdampak pada kelangsungan bisnis hotel. Sepinya wisatawan juga
berdampak pada restoran atau rumah makan yang sebagian besar
konsumennya adalah para wisatawan. Melemahnya pariwisata juga
berdampak pada industri retail. Adapun daerah yang sektor retailnya
paling terdampak adalah Manado, Bali, Kepulauan Riau, Bangka
Belitung, Medan dan Jakarta. Penyebaran virus Corona juga berdampak
pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) karena para
wisatawan yang datang ke suatu destinasi biasanya akan membeli
oleh-oleh. Jika wisatawan yang berkunjung berkurang, maka omset UMKM
juga akan menurun. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada tahun 2016
sektor UMKM mendominasi unit bisnis di Indonesia dan jenis usaha
mikro banyak menyerap tenaga kerja.
Di
bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan
modal ke Indonesia. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari
China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi
di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi
tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke
Indonesia.
Beberapa
langkah yang dilakukan Indonesia dalam menghadapi dampak dari virus
Corona ini adalah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR)
sebesar 25 bps menjadi 4.75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25
bps menjadi 4.00% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps
menjadi 5.50%. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga momentum
pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan
ekonomi global sehubungan dengan terjadinya Covid-19. Bank Indonesia
akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik untuk
menjaga agar inflasi dan stabilitas eksternal tetap terkendali serta
memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi
(www.bi.go.id).
Di
lain sisi, virus Corona tidak hanya berdampak negatif, namun juga
dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Salah
satunya adalah terbukanya peluang pasar ekspor baru selain China.
Selain itu, peluang memperkuat ekonomi dalam negeri juga dapat
terlaksana karena pemerintah akan lebih memprioritaskan dan
memperkuat daya beli dalam negeri daripada menarik keuntungan dari
luar negeri. Kondisi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai koreksi agar
investasi bisa stabil meskipun perekonomian global sedang terguncang.
- Dampak terhadap Pasar Modal
Berdasarkan
informasi yang saya peroleh dari
https://ekbis.sindonews.com/read/1539055/33/dampak-virus-corona-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-terkoreksi-1582755090
Upaya
pemerintah menghadapi dampak wabah corona terhadap perekonomian tidak
akan
berjalan mudah. Strategi apa pun yang bakal dilakukan tidak
sepenuhnya mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi
5%.Proyeksi pesimistis ini disampaikan langsung Menteri Keuangan Sri
Mulyani. Berdasar perhitungannya, koreksi akibat penurunan ekonomi
China sebagai wabah corona dan pengaruhnya terhadap Indonesia
mencapai 0,3% hingga 0,6%. Dia pun memprediksi pertumbuhan ekonomi
Indonesia di kuartal pertama 2020 hanya mencapai 4,7%.
Untuk
menjaga pertumbuhan tidak tergerus, Sri Mulyani mengatakan pemerintah
terus melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dalam
memberikan vitamin untuk menstimulus ekonomi Indonesia. Satu di
antaranya stimulus untuk sektor wisata karena pemasukan ekonomi dari
sektor tersebut banyak mengalami tekanan akibat wabah korona.
Selain
stimulus untuk sektor wisata, dalam rapat terbatas sehari sebelumnya
untuk mengatasi persoalan sama, pemerintah juga mengambil sejumlah
langkah lain seperti mempercepat realisasi kartu prakerja, penambahan
nilai untuk kartu sembako, insentif sektor pariwisata, insentif untuk
penerbangan dan agen perjalanan, hingga sektor perumahan dengan nilai
anggaran mendekati Rp10 triliun.
Menurut
Sri Mulyani, berbagai stimulus tersebut sebagai instrumen untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi sebagaimana juga dipikirkan
negara-negara berkembang. "Kami di pemerintah terus
berkomunikasi dengan Bank Indonesia menstimulus ekonomi dan mengambil
counter cycle kebijakan yang ada. Seperti penurunan suku bunga,"
ungkap Sri Mulyani dalam Economic Outlook 2020 di Ritz Carlton,
Jakarta, kemarin.
Bank Indonesia (BI) mengakui dampak virus korona mulai terasa ke perekonomian Indonesia. Dampak itu bahkan bukan hanya dirasakan sektor riil, tapi juga industri keuangan dalam negeri. Kondisi ini terjadi karena aliran modal asing yang masuk Indonesia menjadi tertunda.
Bank Indonesia (BI) mengakui dampak virus korona mulai terasa ke perekonomian Indonesia. Dampak itu bahkan bukan hanya dirasakan sektor riil, tapi juga industri keuangan dalam negeri. Kondisi ini terjadi karena aliran modal asing yang masuk Indonesia menjadi tertunda.
“Aliran
modal asing yang tersendat membuat pasar keuangan dan pasar saham
anjlok. Tak hanya itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga
terus terkoreksi karena virus korona. Virus ini berdampak ke sektor
riil, pariwisata, investasi, perdagangan, dan sekarang keuangan.
“Sejak 27 Januari pasar jeblok karena dampak korona,"
ujar Deputi Gubernur BI Destry Damayanti.
Dia
menuturkan, sejatinya ekonomi Indonesia sedang dalam tren yang bagus
sebelum datang wabah virus korona. Kepercayaan investor terhadap
ekonomi Indonesia pun semakin tinggi dengan peningkatan angka capital
inflow.
Namun,
setelah itu pasar keuangan berbalik. Untuk menumbuhkan kembali
kepercayaan investor, Bank Indonesia langsung merespons dengan
menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,75%. “Tapi, BI
tidak bisa lakukan intervensi pasar. BI berusaha smoothing volatility
dengan kebijakan yang dilakukan. Akhirnya arus modal masuk stabil,
tidak menurun lebih jauh," jelasnya.
Dalam
pandangannya, Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law merupakan
upaya pemerintah untuk menjaga pertumbuhan. Begitu pun pemberian
insentif untuk sektor pariwisata lewat pemberian diskon tiket pesawat
maksimal 50%. “Kita lakukan konsep aksi untuk menstimulus domestik.
Jadi, stimulus fiskal, sektor riil, Omnibus Law, dan terus melakukan
monitor," katanya.
Chief
Economist BNI Sekuritas Damhuri Nasution menilai revisi yang
dilakukan pemerintah adalah sebuah langkah wajar mengingat dampak
virus korona terhadap perekonomian nasional dan global ternyata lebih
parah dibandingkan SARS maupun prediksi ekonom sebelumnya. "Dengan
revisi ini, pemerintah tampaknya lebih realistis. Penyebaran virus
korona ini memang menyebabkan ekspor menurun," ujar Damhuri hari
ini di Jakarta.
Dia
menilai, dampak tekanan terlihat pada aktivitas di beberapa sektor
seperti manufaktur, pertanian, dan pertambangan yang produknya
diekspor juga akan menurun. Di samping itu, tekanan di sektor jasa
seperti transportasi, hotel dan restoran, serta pariwisata juga akan
menurun. “Tekanan tersebut khususnya karena penurunan turis yang
datang ke Indonesia akibat virus korona,” sebutnya.
Namun,
dia juga melihat Indonesia belum terdampak seperti perekonomian China
atau Korsel sehingga harus melakukan relaksasi masif untuk
menyelamatkan perekonomian nasionalnya. Menurutnya, ini karena porsi
ekspor barang dan jasa dalam perekonomian Indonesia masih relatif
kecil atau kurang dari 20%. "Maka dampak yang dirasakan oleh
Indonesia akan lebih kecil dibandingkan negara-negara tetangga dengan
porsi ekspor dalam ekonominya lebih besar," ucapnya.
- Hal yang akan dilakukan
Sebagai
masyarakat awam yang bukan ahli dalam bidang medis atau kesehatan,
yang bisa saya lakukan adalah memaksimalkan diri saya untuk tetap
menjaga kesehatan sebisa mungkin agar tidak terjangkit virus
tersebut. Bukan hanya saya, tetapi kalianpun juga.
Berikut
tips yang bisa kita terapkan untuk menghadapi COVID 19
- Berbaik sangka kepada Allah & Ridha pada ketentuan Allah
Covid-19
dan krisis ekonomi global yang terjadi bersamaan tentu mengirim pesan
kemanusiaan yang kuat pada masyarakat dunia. Rasulullah SAW bersabda,
“Jika Allah menurunkan ujian kepada seorang hamba yang beriman
dengan suatu ujian penyakit pada tubuhnya, maka Allah memerintahkan
para malaikat-Nya : ‘Catatlah amal kebajikan untuknya!’ Jika
Allah menyembuhkannya, maka Allah telah membersihkan dan menyucikan
segala kesalahannya. Dan bila hamba itu sampai meninggal dunia, maka
Allah juga telah mengampuni dosa-dosanya dan memberikan rahmat
kepadanya.”
- Sabar
Yakinlah
Virus Covid 19 tidak bisa membahayakan siapapun tanpa izin Allah,
jadi perbanyaklah dzikir dan do'a mohon perlindungan Allah dan jangan
lupa maksimalkan ikhtiar dan tawakal. Bersabarlah dalam menghadapi
rencana-rencana yang tertunda, kerugian usaha dan sakit yang dirasa.
- Social Distancing
Social
Distancing adalah meminimalisir kontak langsung antar-manusia atau
menjaga jarak tertentu. Tujuannya adalah mengurangi peluang
penularan. Social Distancing ini sangat penting karena jika terjadi
lonjakan kasus positif secara drastis, rumah sakit bisa kekurangan
sarana dan tenaga medis untuk merawat pasien secara bersamaan. Social
Distancing adalah salah satu cara mencegahnya.
Bentuk
Social Distancing antara lain
-
Untuk individu sebisa mungkin kita harus menjauhi keramaian atau
pertemuan massal; menjaga jarak dengan orang lain 1-2 meter; tidak
berjabat tangan, bergandengan, atau berpelukan; mengurangi frekuensi
ke toko; dan pergi hanya pada saat kondisi mendesak
-
Sedangkan untuk Perusahaan, sebaiknya mulai memberlakukan kerja di
rumah, terutama bagi yang memiliki risiko tinggi terkena virus
corona; membatasi jumlah peserta rapat; dan tidak mengadakan kegiatan
massal dalam waktu dekat ini terutama di ruangan tertutup.
- Tetap bersikap tenang dan jangan terlalu panik
Covid-19
memberi efek kepanikan bukan hanya di Indonesia tetapi hampir seluruh
Dunia. Semua media banyak memberitakan dari mana virus itu berasal,
apa saja gejala yang ditimbulkan, berapa banyak kasus yang terkena
virus tersbut, bagaimana pencegahannya, bagaimana proses pemulihan
pasiennya, dan sebagainya.
Pemerintah
terus menghimbau kepada Masyarakat Indonesia agar tetap tenang
dalam menyikapi Covid 19 yang sampai saat saya menuliskan ini sudah
tercatat 172 kasus. Sejak Pemerintah Indonesia mengumumkan secara
resmi bahwa di Indonesia sudah terdapat 2 kasus (Ibu dan Anak)
terkena virus corona, di hari yang sama, detik itu juga, hampir semua
warga masyarakat Indonesia mulai timbul rasa cemas dan kepanikan,
termasuk saya. Namun,
justru kepanikan itulah yang membuat semua orang jadi kalang kabut.
Ketika uang diatas segalanya, apapun yang saat itu terpikirkan
langsung diserbu habis. Beberapa komoditi seperti kebutuhan pangan,
air bersih, obat-obatan, sabun, hand sanitizer, alat pelindung diri
seperti masker, hand gloves, termometer tubuh dsb banyak diburu para
pelanggan yang katanya ingin stok untuk cari aman.
Dengan
penuh kesadaran, seharusnya kita sebagai manusia tidak semestinya
berlaku demikian. Bayangkan ketika panic buying terus melanda
Indonesia, mungkin tidak hanya harga kebutuhan pokok, masker, atau
hand sanitizer saja yang mengalami kenaikan, tetapi bisa merambah
kesemua jenis komoditi.
Masker
yang semestinya digunakan oleh mereka yang sakit, nyatanya banyak
diburu oleh mereka yang sehat. Akhirnya Rumah Sakit, Beberapa
Fasilitas Kesehatan, para Tenaga Medis, banyak pasien rumah sakit
yang tidak kebagian masker. Padahal mereka yang lebih membutuhkan
masker tersebut. Akhirnya situasi ini yang dimanfaatkan oleh sebagian
oknum yang dengan sengaja menaikan harga. Beberapa kebutuhan pokok
juga ikut diborong habis karena mereka takut harga sembako mahal dan
mereka tidak kebagian bahan makanan. Untuk
itu penting bagi kita untuk menghindari rasa panik yang berlebihan.
Waspada,
harus. Panik, jangan.
- Kenali gejalanya dan cari tahu cara mencegahnya
*
Gejala Klinis : Demam, batuk, pilek, gangguan pernapasan, sakit
tenggorokan, letih dan lesu
*
Pencegahannya :
-
Sering cuci tangan dengan sabun
-
Gunakan masker apabila batuk atau pilek
-
Hati-hati kontak dengan hewan
-
Bila batuk, pilek, dan sesak nafas segera ke fasilitas kesehatan
-
Hindari mengonsumsi daging yang tidak dimasak
-
Konsumsi gizi seimbang, perbanyak makan sayur dan buah-buahan
-
Rajin olahraga dan istirahat yang cukup
- Setiap penyakit ada penawarnya
Sampai
saat ini belum ditemukan vaksin ataupun obat yang mampu menyembuhkan
penyakit ini. Namun, Kemenkes menyebutkan bahwa pasien yang telah
sembuh adalah karena kondisi imunitas tubuhnya yang baik. Menteri
kesehatan pun mengingatkan masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh.
"Tidak
ada di dunia ini yang lebih hebat (menangkal virus corona), lebih
bagus, kecuali imunitas tubuh kita sendiri," kata Terawan,
seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (3/3/2020).
“Tidaklah
Allah menurunkan penyakit kecuali Allah juga
yang menurunkan penawarnya” - HR Bukhori