Jumat, 22 Mei 2020

Dampak Covid 19 Terhadap Bisnis dan Ekonomi - Tugas Kuliah Pengantar Bisnis dan Manajemen


The Efect of COVID to The Business
Diskusi mengenai bisnis/perekonomian atas penyebaran virus COVID dan dampaknya terhadap:
1. Bisnis/Perekonomian dunia
2. Bisnis/Perekonomian Indonesia
3. Pasar Modal
4. Apa yang akan anda lakukan?

  1. Dampak terhadap Bisnis/Perekonomian Dunia
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Coronaviruses (Cov) adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona menyebabkan penyakit flu biasa sampai penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-CoV). Virus Corona adalah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus COVID-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice on the treatment of pneumonia of unknown cause”. Penyebaran virus Corona ini sangat cepat bahkan sampai ke lintas negara. Sampai saat ini terdapat 93 negara yang mengkorfirmasi terkena virus Corona. Penyebaran virus Corona yang telah meluas ke berbagai belahan dunia membawa dampak pada perekonomian dunia baik dari sisi perdagangan, investasi dan pariwisata.
Dalam situs https://republika.co.id/berita/q78m39318/ekonomi-covid19, dijelaskan; Warwick McKibbin dan Roshen Fernando, para peneliti Australian National University, dalam riset mereka “The Global Macroeconomic Impacts of Covid-19” menyusun tujuh skenario dampak virus Covid-19 terhadap perekonomian global.  Indonesia termasuk salah satu dari 20 negara yang diteliti.
Skenario disusun berbasis asumsi tingkat keparahan wabah Covid di Cina.  Pertama, karena Cina sebagai tempat awal merebaknya virus ini.  Kedua, karena Cina sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia.  Apa yang terjadi di Cina akan sangat berpengaruh pada negara lain di dunia. McKibbin dan Fernando mengidentifikasi 5 jenis guncangan (shock) akibat wabah ini. 
Pertama, guncangan terhadap ketersediaan tenaga kerja. Di Cina indeks ketersediaan tenaga kerja turun 3,44, yang dampaknya terasa negara lain termasuk Indonesia yang turun 4,56.  Penurunan Indonesia paling besar diantara 20 negara yang diteliti karena Cina adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Yang juga besar penurunannya adalah India yaitu turun 4,44.
Kedua, guncangan terhadap equity risk premium. Di Cina indeks risiko ini naik 2,67, sedangkan Indonesia naik 2,93.  Hanya ada satu negara yang risiko nya naik lebih tinggi dari Indonesia, yaitu India sebesar 3,18.
Ketiga, guncangan terhadap biaya produksi.  Di Cina indeks biaya naik 0,50 di seluruh sektor Energi, Pertambangan, Pertanian, Manufaktur Barang Durable, Manufaktur Barang Non-Durable, Jasa-jasa.  Di Indonesia indeks ini akan naik dalam kisaran 0,31 sampai dengan 0,40.
Keempat, guncangan terhadap permintaan konsumsi. Indeks ini turun 4,50 di Cina, sedangkan di Indonesia turun 3,86.  Di antara 20 negara yang diteliti, hanya ada 3 negara yang lebih baik dari Indonesia yaitu Argentina turun 3,76, Afrika Selatan turun 3,69, dan Arab Saudi turun 3,35.  Besarnya populasi dan level konsumsi dasar Indonesia banyak membantu menahan turunnya indeks ini.
Kelima, guncangan terhadap anggaran belanja pemerintah. Pemerintah Cina berpotensi menaikkan indeks ini sebesar 2,25, sedangkan di Indonesia indeks ini berpotensi dinaikkan 2,12.  Kenaikan belanja pemerintah ini antara lain untuk penanggulangan wabah.
Dengan memperhitungkan kelima guncangan tersebut, McKibbin dan Fernando melakukan simulasi dampak wabah Covid-19 terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 pada masing-masing negara. Berikut ini scenario 4, 5, dan 6. 
Pertumbuhan ekonomi Cina akan terkoreksi turun -1.6% pada scenario 4, turun -3.6% pada scenario 5, dan turun -6.2% pada scenario 6.  Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkoreksi turun -1.3% pada scenario 4, turun -2.8% pada scenario 5, dan turun -4.7% pada scenario 6.
Simulasi ini sangat besar dampaknya pada perekonomian Indonesia.  Data Biro Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia tahun 2019 tumbuh 5,02 persen. Sedangkan ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan IV-2018 tumbuh 4,97 persen (year on year).
Menggunakan scenario 6, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir habis terpangkas mendekati nihil atau stagnasi.  Bila Pemerintah berhasil melakukan penanganan wabah, sehingga yang terjadi adalah scenario 5, maka pertumbuhan ekonomi hanya 2,22 persen. Bila yang terjadi scenario 4, maka pertumbuhan ekonomi 3,72 persen.
Seandainya yang terjadi scenario 4 sekalipun, dampaknya akan terasa pada penurunan konsumsi masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Pada  triwulan IV-2019, misalnya, yang tumbuh 4,97 persen, dari sisi pengeluaran ditopang oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,97 persen sebagai komponen dengan pertumbuhan tertinggi.
Sedangkan dalam situs https://katadata.co.id/analisisdata/2020/03/16/ekonomi-dunia-menanggung-beban-covid-19 , disebutkan bahwa Tiongkok menjadi Negara yang terpengaruh dan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perekonomian dunia.
  1. Virus Corona Pengaruhi Ekonomi Tiongkok
Wuhan adalah salah satu pusat ekonomi di Tiongkok. Berdasarkan data, produk domestik bruto (PDB) kota ini mencapai 1,48 triliun yuan pada 2018. Jumlah itu mencapai 1,6 persen dari total PDB Tiongkok sebesar 90,03 triliun yuan. Dengan besaran PDB tersebut, Wuhan termasuk dalam 10 besar kota dengan ekonomi terbesar di Tiongkok. Seperti dikutip dari SCMP, penghentian aktivitas ekonomi dan penutupan akses, tak hanya akan melumpuhkan Wuhan. Wabah corona diperkirakan ikut berdampak terhadap ekonomi Tiongkok. Apalagi Wuhan merupakan penghubung wilayah Tiongkok bagian tengah dengan kawasan lain. Kota ini telah menjadi pusat industri otomotif dan baja di Tiongkok. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir telah berinvestasi menjadi sentra hi-tech untuk industri optik. Microsoft dan perusahaan piranti lunak Jerman SAP diketahui membangun industri di kota ini. Selain juga perusahaan otomotif, seperti Dongfeng Motor Corp, Nissan, Honda, General Motor, serta pabrikan mobil Prancis Groupe PSA.
Tahun lalu, PDB Tiongkok tumbuh sebesar 6,1 persen atau yang terendah dalam 29 tahun. Dengan merebaknya wabah corona, perekonomian Tiongkok dipastikan bakal terjerembab ke level terbawah dalam tiga dasawarsa terakhir. Apalagi jika virus yang bernama Covid-19 sampai menyebar ke luar wilayah Wuhan. Dengan situasi ini, Economist Intelligence Unit (EIU) memangkas pertumbuhan ekonomi Tiongkok menjadi 5,4 persen pada 2020. Angka ini lebih rendah dari prediksi sebelumnya sebesar 5,9 persen. Namun dampak terhadap PDB akan lebih besar jika wabah ini tak tertangani hingga Maret. Hal yang sama juga dilakukan sejumlah lembaga yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada tahun ini. Pemerintah Tiongkok pun tak membantah jika wabah corona dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi antara 0,2 – 1 persen. Hal ini disampaikan Zeng Gang, Wakil Ketua Institut untuk Keuangan dan Pembangunan Nasional, seperti dikutip dari Reuters. Perkiraan ini mengacu pada dampak wabah SARS yang terjadi pada 2003. “Dampak epidemik ini terhadap ekonomi di kuartal I, sepertinya akan sebanding (dengan SARS),” kata Zeng Gang.
  1. Ekonomi Global Diprediksi Merosot
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua, merosotnya ekonomi Tiongkok akan berdampak terhadap perekonomian global pada 2020. Hal ini terlihat dari proyeksi yang dilakukan sejumlah lembaga. EIU menurunkan target pertumbuhan ekonomi global dari 2,3 persen menjadi 2,2 persen. Sementara Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,4 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 2,5 persen. Lembaga riset Moody’s Analytics dalam laporan “Coronavirus: The Global Economic Threat” (2020) memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal I-2020 (yoy) tergerus hingga 2 persen. Adapun, setiap 1 persen penurunan PDB negara ini akan mengurangi perekonomian dunia sebesar 0,4 persen. Menurut laporan tersebut, kawasan Asia yang bakal paling dirugikan. Dampak jangka pendeknya pun sudah terlihat di sektor pariwisata. Sejumlah negara yang menghentikan sementara penerbangan serta pelayaran dari dan ke Tiongkok mencatatkan penurunan jumlah kunjungan wisatawan, seperti Thailand, Jepang, dan Vietnam. Di Makau, mengutip Bloomberg, jumlahnya bahkan anjlok hingga 83 persen selama libur Imlek. Data China Outbound Tourism Research Institute menyebutkan sebanyak 173 juta wisatawan Tiongkok bepergian ke luar negeri pada periode Oktober 2018 sampai September 2019. World Tourism Organization pun mengatakan mereka yang paling banyak mengeluarkan uang dalam pelesirannya, dengan total US$ 277 miliar pada 2018.
Selain itu sejak awal 2000, Tiongkok gencar menanamkan modalnya di negara lain. Dana itu ditanamkan untuk sejumlah proyek infrastruktur serta manufaktur, terutama di kawasan Asia seperti Pakistan, Indonesia, dan Malaysia. Sepanjang 2005-2019, total investasi yang dilakukan Tiongkok di Asia mencapai US$ 527,2 miliar. (Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Analisis Data: Ekonomi Dunia Menanggung Beban Covid-19")
  1. Dampak terhadap Perekonomian Indonesia
China merupakan negara eksportir terbesar dunia. Indonesia sering melakukan kegiatan impor dari China dan China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Adanya virus Corona yang terjadi di China menyebabkan perdagangan China memburuk. Hal tersebut berpengaruh pada perdagangan dunia termasuk di Indonesia. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2020, penurunan tajam terjadi pada ekspor migas dan non-migas yang merosot 12.07%, hal ini dapat terjadi karena China merupakan pengimpor minyak mentah terbesar, termasuk dari Indonesia.
Dari sisi impor juga terjadi penurunan 2.71% yang disumbang turunnya transaksi komoditas buah-buahan.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan sekitar 0,23%, jika perekonomian China melemah satu persen akibat wabah virus Corona.
Dalam situs https://duta.co/dampak-virus-corona-terhadap-perekonomian-global-khususnya-di-indonesia, disebutkan bahwa sektor Pariwisata diperkirakan akan menjadi sektor yang paling berdampak akan merebaknya kasus ini. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) memprediksi potensi kerugian sektor industri pariwisata mencapai puluhan miliar per bulan karena anjloknya turis dari China.
Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari China untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini menyebabkan sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya dan beberapa maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang. Para konsumen banyak yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus Corona. Keadaan ini menyebabkan pemerintah bertindak dengan memberikan diskon untuk para wisatawan dengan tujuan Denpasar, Batam, Bintan, Manado, Yogyakarta, Labuan Bajo, Belitung, Lombok, Danau Toba dan Malang. Di Eropa juga memberlakukan aturan dimana maskapai penerbangan harus menggunakan sekitar 80 persen slot penerbangan yang beroperasi ke luar benua Eropa agar tidak kehilangan slot ke maskapai pesaingnya. Bukan hanya di Indonesia yang membatasi perjalanan ke China, namun negara-negara yang lain seperti Italia, China, Singapura, Rusia, Australia dan negara lain juga memberlakukan hal yang sama (www.cnnindonesia.com).
Virus Corona yang sudah banyak menyerang saudara kita di belahan negara lain tentu menjadi ketakutan yang juga dirasakan hingga Indonesia. Tak hanya tindakan dari pemerintah saja, masyarakat pun perlu mawas saat bepergian ke luar negeri sehingga menimalisir kemungkinan virus masuk ke Indonesia. Penting pula mengenali lebih jauh negara yang ingin dikunjungi sebelumnya,” kata Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani dalam keterangannya, Jumat (28/2/2020).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa wisatawan asal China mencapai 2.07 juta orang pada tahun 2019 yang mencakup 12.8 persen dari total wisatawan asing sepanjang 2019. Penyebaran virus Corona menyebabkan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia akan berkurang. Sektor-sektor penunjang pariwisata seperti hotel, restoran maupun pengusaha retail pun juga akan terpengaruh dengan adanya virus Corona. Okupansi hotel mengalami penurunan sampai 40 persen yang berdampak pada kelangsungan bisnis hotel. Sepinya wisatawan juga berdampak pada restoran atau rumah makan yang sebagian besar konsumennya adalah para wisatawan. Melemahnya pariwisata juga berdampak pada industri retail. Adapun daerah yang sektor retailnya paling terdampak adalah Manado, Bali, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Medan dan Jakarta. Penyebaran virus Corona juga berdampak pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) karena para wisatawan yang datang ke suatu destinasi biasanya akan membeli oleh-oleh. Jika wisatawan yang berkunjung berkurang, maka omset UMKM juga akan menurun. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada tahun 2016 sektor UMKM mendominasi unit bisnis di Indonesia dan jenis usaha mikro banyak menyerap tenaga kerja.
Di bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan modal ke Indonesia. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke Indonesia.
Beberapa langkah yang dilakukan Indonesia dalam menghadapi dampak dari virus Corona ini adalah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4.75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4.00% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5.50%. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya Covid-19. Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik untuk menjaga agar inflasi dan stabilitas eksternal tetap terkendali serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi (www.bi.go.id).
Di lain sisi, virus Corona tidak hanya berdampak negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah terbukanya peluang pasar ekspor baru selain China. Selain itu, peluang memperkuat ekonomi dalam negeri juga dapat terlaksana karena pemerintah akan lebih memprioritaskan dan memperkuat daya beli dalam negeri daripada menarik keuntungan dari luar negeri. Kondisi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai koreksi agar investasi bisa stabil meskipun perekonomian global sedang terguncang.
  1. Dampak terhadap Pasar Modal
Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari
Upaya pemerintah menghadapi dampak wabah corona terhadap perekonomian tidak akan berjalan mudah. Strategi apa pun yang bakal dilakukan tidak sepenuhnya mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi 5%.Proyeksi pesimistis ini disampaikan langsung Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berdasar perhitungannya, koreksi akibat penurunan ekonomi China sebagai wabah corona dan pengaruhnya terhadap Indonesia mencapai 0,3% hingga 0,6%. Dia pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama 2020 hanya mencapai 4,7%.
Untuk menjaga pertumbuhan tidak tergerus, Sri Mulyani mengatakan pemerintah terus melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dalam memberikan vitamin untuk menstimulus ekonomi Indonesia. Satu di antaranya stimulus untuk sektor wisata karena pemasukan ekonomi dari sektor tersebut banyak mengalami tekanan akibat wabah korona. Selain stimulus untuk sektor wisata, dalam rapat terbatas sehari sebelumnya untuk mengatasi persoalan sama, pemerintah juga mengambil sejumlah langkah lain seperti mempercepat realisasi kartu prakerja, penambahan nilai untuk kartu sembako, insentif sektor pariwisata, insentif untuk penerbangan dan agen perjalanan, hingga sektor perumahan dengan nilai anggaran mendekati Rp10 triliun.
Menurut Sri Mulyani, berbagai stimulus tersebut sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebagaimana juga dipikirkan negara-negara berkembang. "Kami di pemerintah terus berkomunikasi dengan Bank Indonesia menstimulus ekonomi dan mengambil counter cycle kebijakan yang ada. Seperti penurunan suku bunga," ungkap Sri Mulyani dalam Economic Outlook 2020 di Ritz Carlton, Jakarta, kemarin.
Bank Indonesia (BI) mengakui dampak virus korona mulai terasa ke perekonomian Indonesia. Dampak itu bahkan bukan hanya dirasakan sektor riil, tapi juga industri keuangan dalam negeri. Kondisi ini terjadi karena aliran modal asing yang masuk Indonesia menjadi tertunda.
Aliran modal asing yang tersendat membuat pasar keuangan dan pasar saham anjlok. Tak hanya itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga terus terkoreksi karena virus korona. Virus ini berdampak ke sektor riil, pariwisata, investasi, perdagangan, dan sekarang keuangan. “Sejak 27 Januari pasar jeblok karena dampak korona," ujar Deputi Gubernur BI Destry Damayanti.
Dia menuturkan, sejatinya ekonomi Indonesia sedang dalam tren yang bagus sebelum datang wabah virus korona. Kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia pun semakin tinggi dengan peningkatan angka capital inflow. Namun, setelah itu pasar keuangan berbalik. Untuk menumbuhkan kembali kepercayaan investor, Bank Indonesia langsung merespons dengan menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,75%. “Tapi, BI tidak bisa lakukan intervensi pasar. BI berusaha smoothing volatility dengan kebijakan yang dilakukan. Akhirnya arus modal masuk stabil, tidak menurun lebih jauh," jelasnya.
Dalam pandangannya, Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law merupakan upaya pemerintah untuk menjaga pertumbuhan. Begitu pun pemberian insentif untuk sektor pariwisata lewat pemberian diskon tiket pesawat maksimal 50%. “Kita lakukan konsep aksi untuk menstimulus domestik. Jadi, stimulus fiskal, sektor riil, Omnibus Law, dan terus melakukan monitor," katanya.
Chief Economist BNI Sekuritas Damhuri Nasution menilai revisi yang dilakukan pemerintah adalah sebuah langkah wajar mengingat dampak virus korona terhadap perekonomian nasional dan global ternyata lebih parah dibandingkan SARS maupun prediksi ekonom sebelumnya. "Dengan revisi ini, pemerintah tampaknya lebih realistis. Penyebaran virus korona ini memang menyebabkan ekspor menurun," ujar Damhuri hari ini di Jakarta.
Dia menilai, dampak tekanan terlihat pada aktivitas di beberapa sektor seperti manufaktur, pertanian, dan pertambangan yang produknya diekspor juga akan menurun. Di samping itu, tekanan di sektor jasa seperti transportasi, hotel dan restoran, serta pariwisata juga akan menurun. “Tekanan tersebut khususnya karena penurunan turis yang datang ke Indonesia akibat virus korona,” sebutnya.
Namun, dia juga melihat Indonesia belum terdampak seperti perekonomian China atau Korsel sehingga harus melakukan relaksasi masif untuk menyelamatkan perekonomian nasionalnya. Menurutnya, ini karena porsi ekspor barang dan jasa dalam perekonomian Indonesia masih relatif kecil atau kurang dari 20%. "Maka dampak yang dirasakan oleh Indonesia akan lebih kecil dibandingkan negara-negara tetangga dengan porsi ekspor dalam ekonominya lebih besar," ucapnya.
  1. Hal yang akan dilakukan
Sebagai masyarakat awam yang bukan ahli dalam bidang medis atau kesehatan, yang bisa saya lakukan adalah memaksimalkan diri saya untuk tetap menjaga kesehatan sebisa mungkin agar tidak terjangkit virus tersebut. Bukan hanya saya, tetapi kalianpun juga.
Berikut tips yang bisa kita terapkan untuk menghadapi COVID 19
  1. Berbaik sangka kepada Allah & Ridha pada ketentuan Allah
Covid-19 dan krisis ekonomi global yang terjadi bersamaan tentu mengirim pesan kemanusiaan yang kuat pada masyarakat dunia. Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah menurunkan ujian kepada seorang hamba yang beriman dengan suatu ujian penyakit pada tubuhnya, maka Allah memerintahkan para malaikat-Nya : ‘Catatlah amal kebajikan untuknya!’ Jika Allah menyembuhkannya, maka Allah telah membersihkan dan menyucikan segala kesalahannya. Dan bila hamba itu sampai meninggal dunia, maka Allah juga telah mengampuni dosa-dosanya dan memberikan rahmat kepadanya.”
  1. Sabar
Yakinlah Virus Covid 19 tidak bisa membahayakan siapapun tanpa izin Allah, jadi perbanyaklah dzikir dan do'a mohon perlindungan Allah dan jangan lupa maksimalkan ikhtiar dan tawakal. Bersabarlah dalam menghadapi rencana-rencana yang tertunda, kerugian usaha dan sakit yang dirasa.
  1. Social Distancing
Social Distancing adalah meminimalisir kontak langsung antar-manusia atau menjaga jarak tertentu. Tujuannya adalah mengurangi peluang penularan. Social Distancing ini sangat penting karena jika terjadi lonjakan kasus positif secara drastis, rumah sakit bisa kekurangan sarana dan tenaga medis untuk merawat pasien secara bersamaan. Social Distancing adalah salah satu cara mencegahnya.
Bentuk Social Distancing antara lain
- Untuk individu sebisa mungkin kita harus menjauhi keramaian atau pertemuan massal; menjaga jarak dengan orang lain 1-2 meter; tidak berjabat tangan, bergandengan, atau berpelukan; mengurangi frekuensi ke toko; dan pergi hanya pada saat kondisi mendesak
- Sedangkan untuk Perusahaan, sebaiknya mulai memberlakukan kerja di rumah, terutama bagi yang memiliki risiko tinggi terkena virus corona; membatasi jumlah peserta rapat; dan tidak mengadakan kegiatan massal dalam waktu dekat ini terutama di ruangan tertutup.
  1. Tetap bersikap tenang dan jangan terlalu panik
Covid-19 memberi efek kepanikan bukan hanya di Indonesia tetapi hampir seluruh Dunia. Semua media banyak memberitakan dari mana virus itu berasal, apa saja gejala yang ditimbulkan, berapa banyak kasus yang terkena virus tersbut, bagaimana pencegahannya, bagaimana proses pemulihan pasiennya, dan sebagainya.
Pemerintah terus menghimbau kepada Masyarakat Indonesia agar tetap tenang dalam menyikapi Covid 19 yang sampai saat saya menuliskan ini sudah tercatat 172 kasus. Sejak Pemerintah Indonesia mengumumkan secara resmi bahwa di Indonesia sudah terdapat 2 kasus (Ibu dan Anak) terkena virus corona, di hari yang sama, detik itu juga, hampir semua warga masyarakat Indonesia mulai timbul rasa cemas dan kepanikan, termasuk saya. Namun, justru kepanikan itulah yang membuat semua orang jadi kalang kabut. Ketika uang diatas segalanya, apapun yang saat itu terpikirkan langsung diserbu habis. Beberapa komoditi seperti kebutuhan pangan, air bersih, obat-obatan, sabun, hand sanitizer, alat pelindung diri seperti masker, hand gloves, termometer tubuh dsb banyak diburu para pelanggan yang katanya ingin stok untuk cari aman.
Dengan penuh kesadaran, seharusnya kita sebagai manusia tidak semestinya berlaku demikian. Bayangkan ketika panic buying terus melanda Indonesia, mungkin tidak hanya harga kebutuhan pokok, masker, atau hand sanitizer saja yang mengalami kenaikan, tetapi bisa merambah kesemua jenis komoditi. 
Masker yang semestinya digunakan oleh mereka yang sakit, nyatanya banyak diburu oleh mereka yang sehat. Akhirnya Rumah Sakit, Beberapa Fasilitas Kesehatan, para Tenaga Medis, banyak pasien rumah sakit yang tidak kebagian masker. Padahal mereka yang lebih membutuhkan masker tersebut. Akhirnya situasi ini yang dimanfaatkan oleh sebagian oknum yang dengan sengaja menaikan harga. Beberapa kebutuhan pokok juga ikut diborong habis karena mereka takut harga sembako mahal dan mereka tidak kebagian bahan makanan. Untuk itu penting bagi kita untuk menghindari rasa panik yang berlebihan.
Waspada, harus. Panik, jangan.
  1. Kenali gejalanya dan cari tahu cara mencegahnya
* Gejala Klinis : Demam, batuk, pilek, gangguan pernapasan, sakit tenggorokan, letih dan lesu
* Pencegahannya :
- Sering cuci tangan dengan sabun
- Gunakan masker apabila batuk atau pilek
- Hati-hati kontak dengan hewan
- Bila batuk, pilek, dan sesak nafas segera ke fasilitas kesehatan
- Hindari mengonsumsi daging yang tidak dimasak
- Konsumsi gizi seimbang, perbanyak makan sayur dan buah-buahan
- Rajin olahraga dan istirahat yang cukup
  1. Setiap penyakit ada penawarnya
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin ataupun obat yang mampu menyembuhkan penyakit ini. Namun, Kemenkes menyebutkan bahwa pasien yang telah sembuh adalah karena kondisi imunitas tubuhnya yang baik. Menteri kesehatan pun mengingatkan masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh.
"Tidak ada di dunia ini yang lebih hebat (menangkal virus corona), lebih bagus, kecuali imunitas tubuh kita sendiri," kata Terawan, seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (3/3/2020).
Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Allah juga yang menurunkan penawarnya” - HR Bukhori